Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah (jangan barengan). Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorang pun sudah cukup membuat rumah jadi meriah.
Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “Stop! ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar.”
Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati: “kamu makin cantik kalau marah, makin energik….”
Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi…
“duh kekasih … bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka di padang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….“
dari Iman Hariyanto, Nov 23, 2005 3:01 PM